14 Depati Dalam Ulayat Rencong Telang Pulau Sangkar Resmi Dilantik

Kerinci- jendelapublik.com. Depati Rencong Telang Pulau Sangkar, merupakan bagian Empat Depati Tertinggi di Bumi Sakti Alam Kerinci. Minggu, 07/02/2021

Adat busendi syarak, syarak busendi kitabulloh, yang tak lapuk karena hujan yang tak lekang kareno paneh. Syarak mungato adat mumakai Yang bertujuan mengajun mengarah anak jantan anak batino di bumi alam kerinci ini untuk menuju tatanan kehidupan yang baik ditengah masyarakat.

Depati Rencong Telang Pulau Sangkar, yang merupakan bagian Depati tertinggi dan diakui sepanjang sejarah Adat Kerinci sehingga telah sukses membentuk, melantik, serta meresmikan 14 Depati dalam jajarannya.

Depati Tago, Depati Belinggo, Depati Anggo, Depati Agung, Depati Kincai Sekaki Kembang Duo, Depati Sangka, Depati Permai, Depati Sentil, Depati Lipan, Depati Mudo, Depati Suko Burajo, Depati Nanggalo, Depati Cahoyo Nagoro, Depati Anum

Peresmian depati dalam ulayat rencong telang Pulau Sangkar juga dihadiri depati empat delapan helai kain beserta kembang rekan yang ada dalam wilayah kerinci, dan yang paling istimewa sekali turut hadir Tokoh Adat dari Sumatra Barat.

“Gunardi Gelar Datuk Pondo Morajo dari tokoh adat Sumatra Barat, sempat dimintai keterangan terkait Dualisme Adat yang terjadi di Kerinci. Antara adat Depati Rencong Telang Pulau Sangkar dengan Depati Rencong Telang Ujung Kerajaan Pagaruyung.

“Datuk Pondo Morajo, Adat tidak bisa di intervensi karena adat adalah melekat, adat juga tidak pernah di Akta Notariskan. Sako Pusako dengan arti kata Sako adalah Gelar, sedangkan Pusako adalah Harta. Jadi dari Kerajaan Pagaruyung tidak ada wewenang untuk mengatur tentang tatanan adat serta harta yang ada disini, dalam artian lain tanah Ulayat Adat yang disengketakan, kalo hubungan darah memang ada antara Minangkabau dengan Kerinci, kalo untuk mengatur tidak”. Jelasnya

Baca Juga:  Update Real Count C1 KPU Pilgub Jambi, Haris-Sani Unggul 38,5 Persen-Suara Masuk 49,90 Persen Pukul 17.41 WIB

“Lebih lanjut ia menuturkan, Kerajaan Pagaruyung tidak pernah ada disini, karena Kerinci tidak pernah ditaklukkan oleh Kerajaan. Terjadinya dualisme adat wajib diselesaikan secara Adat disini, karena telah kusut, dan kami siap mendukung atas keputusan yang diambil oleh Depati Empat Alam Kerinci. Kalo perlu kami siap hadir jika dibutuhkan, karena itu juga menjadi wewenang Datuk Mendaro Kuning sebagai sapi belahannya”. Tutupnya

“Hal senada juga disampaikan oleh, Irsal Feri Idrus Gelar Datuk Lelo Sempurno, Wakil Ketua Dua Lembaga Adat Provinsi Sumatra Barat. Didalam adat ada empat permasalahan yang sering terjadi, kusut bulu baruhnya yang menyelesaikan, kusuik banang cari ujung dan pangkal, kusuik rambut cari minyak dan sikek, kusuik saganggam dapua api panyudahi. Tidak ada kusut yang tidak bisa diselasaikan tidak ada keruh yang yang tidak bisa dijernihkan.

Terkait dualisme adat karena salah memahami atau krisis pengetahuan tentang Adat, karena kita mengalami degredasi, historsy, serta krisis pemahaman. bak pituah Minangkabau dek lamo lupo dek banyak ragu, ada baiknya dilakukan pembinaan generasi muda (Anak jantan anak batino) untuk diwariskan kepada generasi penerus, agar permasalahan ini tidak terulang lagi.

Saya bicara disini atas nama Rajo Alam, menurut adat istiadat Minangkabau, Raja Minang Kabau tidak mempunyai kuasa karena kuasanya ada dirantau. Sebagai dasar hukum Luhak bapanghulu Rantau Barajo namun kekuasaanya juga bukan di Ulayat atau tanah. Tutupnya

Tim: Aliansi Bumi Kerinci

Bagikan :