Buya Hamka: Perintah Puasa, Orang Kaya Juga Merasakan Lapar

Kerinci- jendelapublik.com. Puasa bukan sekedar menahan lapar.

“Telah diperintahkan oleh Tuhan kepadamu mengerjakan puasa. Sebagaimana telah diperintahkan pula hal demikian ini kepada orang-orang sebelummu. Maksudnya supaya kamu bertakwa kepada Allah.”
Maksud dari puasa adalah supaya hubunganmu dengan Allah selalu terpelihara.

Dalam setahun, ada momen khusus untuk mengokohkan hubungan dengan Allah dalam mengerjakan perintah-Nya. Inilah saat Bulan Ramadhan.

Sebab kita mengakui ber-Tuhan kepada Allah, mengakui kita orang Islam, tapi pengakuan saja tidak cukup, tanpa dituruti perbuatan.
Betapa banyak orang memeluk suatu agama, tapi tidak ada getaran di dalamnya.

Perbuatan menambah keteguhan dan kesadaran, tentang hubungan kita dengan Tuhan. Itulah maksud la’allakum tattaqun.
Di dalam mengerjakan puasa, kita insaf bahwa yang memerintahkan kita adalah Tuhan. Kita menolak makan seharian, karena perintah Tuhan. Kalau yang menyuruh manusia, tentu kita tidak mau melakukannya. Dengan insaf, timbulah perubahan jiwa. Kita tidak merasa kesepian, kita merasa ada hubungan dengan Tuhan.

Puasa Membatasi Kemerdekaan Diri?
Lalu ada pertanyaan: “Katanya kita mau merdeka. Kenapa dilarang makan? Bukankah itu menghambat kebebasan kita? ”

Jawaban Buya Hamka: “Dengan mengerjakan puasa, kita menutup kemerdekaan jiwa kita sendiri. Saya sendiri, kalau tidak makan pukul 7 pagi, saya jadi bodoh. Tetapi dalam bulan puasa saya dapat menguasai diri, walaupun anak istri tidak melihat, karena Allah yang melarang.”
Ada pepatah arab: Orang yang tidak ada kesanggupan mengatur diri sendiri, jangan harap bisa mengatur orang lain.

Hikmat puasa adalah pendidikan kepada diri sendiri.
Apabila hidup kenyang saja terus, pikiran itu lebih banyak terhadap kebendaan.

Bulan puasa mengasah aspek ruhani. Kita tidak lagi memikirkan bagaimana perut terisi, tapi bagaimana jiwa terisi.

Baca Juga:  Peduli Masyarakat Forkopincam Kecamatan Sitinjau Laut Laksanakan Penyemprotan Dispektan Antisipasi Virus Corona Disease (covid-19)

Mengesampingkan perut yang kenyang dan mulai mengenyangkan rohani. Mengisi jiwa dengan mendekati Allah, dengan melaksanakan perintah dan menghentikan larangan-Nya.

Didikan puasa adalah intropeksi, mengatur, menguasai diri sendiri. Sehingga hawa nafsu tidak akan mempengaruhi kita. Jiwa seperti ini dididik sekurang-kurangnya sebulan dalam setahun. Sehingga diri kita hidup berdisiplin.

Merasakan Kelaparan dan Berempati
Bulan puasa menambah iman, dan kepeduliaan terhadap sesama.
Kita makan bersama dengan gembira, tapi kita juga mengingat ada orang lain yang puasanya lebih lama dari kita karena tidak ada yang dimakan.

Apabila perintah puasa sudah dikerjakan, sekalipun orang kaya, wajib merasakan lapar, merasakan apa yang orang miskin rasakan. Berempati dan mengasah kepedulian terhadap sesama.

Setelah bulan puasa kita juga teringat zakat diri. Dua setengah liter. Dengan itu, tiap-tiap orang tidak ada yang berniat meminta, tapi bagaimana saya bisa memberi untuk orang lain.
Dalam tarawih kita merapat shaf, sembahyang bersama-sama.

Menyadari bahwa di sekitar kanan kiri ada yang hidup di bawah sederhana. Ini yang kita fikirkan, bagaimana supaya dia diberi zakat fitrah.
Sehingga meratalah setiap tahun sekali, dipraktikan, keadilan sosial yang merata dalam masyarakat.

Ini salah satu hikmat yang terkandung dalam mengerjakan puasa.
Bertambah iman seseorang,makin berfikir untuk memberi. Berkurang iman, makin berfikir bagaimana meminta.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh hadis Rasulullah:
“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Latihan sebulan adalah latihan yang banyak (waktu yang sangat cukup) untuk mengasah dan mengokohkan jiwa dalam setahun kedepan.
Tidak kah ada perubahan dalam diri kita? Perubahan terhadap pandangan hidup?

Baca Juga:  Tim 20 Diminta Beberkan Fakta Penyebab Konflik dengan PLTA hingga Ditangkap 2 Warga Pulau Sagkar

Bahwa hidup yang sejati adalah kebersihan jiwa. Usaha memperbanyak perbuatan yang baik di dalam kehidupan.

Tambahan:
Hadis yang diriwayatkan Rasulullah: “Barangsiapa yang bulan puasa Bulan Ramadhan dengan iman, memperhitungan keadaan diri sendiri (berapa kebajikan yang saya amalkan, berapa banyak kelalaian hidup yang saya lakukan, bagaimana saya mengisi hidup) dia akan memperoleh hidup bahagia dengan akhirat. Tuhan Allah berjanji akan diampunkan kalau ada dosa-dosanya terdahulu.”

Semoga kita termasuk yang meraih kemuliaan ini..
Wallahualam bisawab

Sumber: Buya Hamka

Bagikan :