Dua Petinggi Adat Minangkabau: Depati Rencong Telang Ujung Kerajaan Pagaruyung Itu Tidak Ada

Kerinci- jendelapublik.com. Atas nama Daulat Depati Pagaruyung Minang Kabau, yang di Pertuan Rajo Minang Kabau. 07/02/2021

Sakral, Adat busendi syarak, syarak busendi kitabulloh, adat mungato syarak mumakai, ujud satu bulain jalan, siang kito batungkek kok malam Kito bakalam, Kito pegang arek Kito pegang taguh, dalam bermasyarakat khususnya di Alam Minangkabau, dan Kerinci Provinsi Jambi.

Atas nama Rajo Alam Pagaruyung juga menyampaikan keprihatinannya sehubungan yang terjadi di Alam Kerinci akhir-akhir ini, khususnya yang terjadi di Depati Rencong Telang Pulau Sangkar dengan Lembaga Ulayat Adat Depati Rencong Telang Ujung Kerajaan Pagaruyung, yang ada indikasi dilakukan oleh oknum-oknum tertentu berkaitan dengan Adat Lamo Pusako Usang, yang selama ini telah berlaku secara turun temurun yang berlaku di Ulayat Adat Depati Rencong Telang Pulau Sangkar.

Namun berdasarkan kebijakan Depati Alam Kerinci, permasalahan tersebut sudah bisa terselesaikan oleh Depati Empat Alam Kerinci. Kok kusuik alah diselesaikan kok karuh alah dijernihkan, kok sasek diujung jalan babaliak kapangka jalan, pinang dipulangkan ketampuknyo, sirih pulang ke gagangnyo, kok singkek diuleh, kok panjang dikarek.

Sehubungan dengan hal tersebut tidak terulang dimasa yang akan datang, terutama kepada Depati Ampek Alam Kerinci beserta Ninik mamak, yang didahulukan selangkah dan di tinggikan seranting dalam kehidupan bermasyarakat. Mulai detik ini mari kita lakukan pelestarian Adat yang akan kita warisi kepada anak kemenakan kita agar permasalahan yang sama tidak terulang lagi dimasa yang akan datang.

Adat mungatokan, Maminteh sabelum nangih, malantai sebelum lapuk. Jadi mulai dari sekarang lakukan pembinaan generasi muda, Apa itu Adat, Adat basendi syarak. Baik di Alam Minangkabau maupun di Kerinci ini, khususnya di Depati Rencong Telang Pulau Sangkar, siang kito batungkek malam Kito bakalam, kito pagang arek kito genggam taguh dalam mewujudkan tujuan kita, bahagia Dunia dan Akhirat.

Baca Juga:  Duo Akedimisi Dipastikan Pimpin Kota Sungai Penuh

Bumi sanang padi munjadi, padi manguning jagung maupia, taranak bakambang piak, punakan sanang santoso, bapak kayo mande barameh mamak disambang urang pulo, katangah bagantang urai katapi bagantang podi. Atau dalam syarak sebagai sandi adat kita baldatun toyyibatun wabrurgofur.

“Gunardi Gelar Datuk Pondo Morajo dari tokoh adat Sumatra Barat, juga menuturkan, terkait Dualisme Adat yang terjadi di Kerinci, Antara adat Depati Rencong Telang Pulau Sangkar dengan Depati Rencong Telang Ujung Kerajaan Pagaruyung.

“Adat tidak bisa di intervensi karena adat adalah melekat, adat juga tidak pernah di Akta Notariskan. Sako Pusako dengan arti kata Sako adalah Gelar, sedangkan Pusako adalah Harta. Jadi dari Kerajaan Pagaruyung tidak ada wewenang untuk mengatur tentang tatanan adat serta harta yang ada disini, dalam artian lain tanah Ulayat Adat yang disengketakan, kalo hubungan darah memang ada antara Minangkabau dengan Kerinci, kalo untuk mengatur tidak”. Jelasnya

“Lebih lanjut ia menuturkan, Kerajaan Pagaruyung tidak pernah ada disini, karena Kerinci tidak pernah ditaklukkan oleh Kerajaan. Terjadinya dualisme adat wajib diselesaikan secara Adat disini, karena telah kusut, dan kami siap mendukung atas keputusan yang diambil oleh Depati Empat Alam Kerinci. Kalo perlu kami siap hadir jika dibutuhkan, karena itu juga menjadi wewenang Datuk Mendaro Kuning sebagai sapi belahannya”. Tutupnya

“Hal senada juga disampaikan oleh, Irsal Feri Idrus Gelar Datuk Lelo Sempurno, Wakil Ketua Dua Lembaga Adat Provinsi Sumatra Barat. Didalam adat ada empat permasalahan yang sering terjadi, kusut bulu baruhnya yang menyelesaikan, kusuik banang cari ujung dan pangkal, kusuik rambut cari minyak dan sikek, kusuik saganggam dapua api panyudahi. Tidak ada kusut yang tidak bisa diselasaikan tidak ada keruh yang yang tidak bisa dijernihkan.

Baca Juga:  KASI PENYELENGGARA HAJI DAN UMROH KOTA SUNGAI PENUH : TURUT BERDUKA ATAS WAFATNYA JAMA'AH HAJI

Terkait dualisme adat karena salah memahami atau krisis pengetahuan tentang Adat, karena kita mengalami degredasi, historsy, serta krisis pemahaman. bak pituah Minangkabau dek lamo lupo dek banyak ragu, ada baiknya dilakukan pembinaan generasi muda (Anak jantan anak batino) untuk diwariskan kepada generasi penerus, agar permasalahan ini tidak terulang lagi.

Saya bicara disini atas nama Rajo Alam, menurut adat istiadat Minangkabau, Raja Minang Kabau tidak mempunyai kuasa, karena kuasanya ada dirantau. Sebagai dasar hukum Luhak bapanghulu Rantau Barajo namun kekuasaanya juga bukan di Ulayat atau tanah. Tutupnya

Tim: Aliansi Bumi Kerinci

Bagikan :