Keteladanan Teratai Dalam Kehidupan Manusia

Kerinci- jendelapublik.com. Keteladan teratai mengajarkan tentang adanya kesetaraan derajad dan kesamaan martabat. 22/09/2020

Teratai, kering ataw basah? tidak peduli berapa kali ia di tenggelamkan ke dalam air dia tetap saja kering. Ada banyak makna dari tingkah yang ditunjukannya itu. Meskipun teratai terendam oleh air, dia tidak tertarik untuk menyerap air lebih dari yang menjadi haknya.

Dalam psikologi kita diajarkan untuk berlutut ketika berbicara dengan anak-anak yang masih kecil, tujuannya supaya secara psikologis ada kesetaraan antara ayah dengan anak-anaknya.

Dalam etika ketimuran, kita di ajari untuk memperlakukan orang lain dengan azas ”Berdiri Sama Tinggi Duduk Sama Rendah”, persis seperti yang dijarkan oleh teratai.

Teratai mengatakan ” Aku di utus oleh Tuhan untuk mengatakan kepadamu tentang kesetaraan, antara aku dan kamu tidak ada perbedaan derajat, antara kamu dan mereka terdapat kesamaan martabat.

Kamu manusia, mereka juga sama.” antara kita dengan orang lain tidak ada perbedaan bermakna, memang ada perbedaan. Uang anda bisa saja lebih banyak dari orang lain, ataw jabatan anda mungkin lebih tinggi dari orang lain. Namun, di mata Tuhan bukan perbedaan seperti itu yang di nilai.

Teratai mengingatkan kita bahwa menempatkan diri sejajar dengan pihak yang derajatnya lebih rendah sama sekali tidak akan membuat nilai kita menjadi rendah.

Teratai juga mengingatkan bahwa,  yang namanya amanah itu harus di jaga sedemikian rupa, sehingga jumlahnya tetap utuh. bukanlah termasuk manusia yang baik, jika kita mengurangi amanah yang sedang di pikul.

Tuhan menciptakan teratai untuk menjadi contoh, sekalipun teratai diliputi oleh air yang banyak dan melimpah, dia tidak sekali-kali menyerap air untuk keperluan dirinya sendiri.

Baca Juga:  Pembangunan Saluran Irigasi Desa Baru Debai Diduga Cacat Mutu

Teratai tetap kering meskipun sedang menduduki di tempat yang basah, begitu juga dengan sifat manusia yang amanah. Artinya manusia yang bisa dipercaya untuk menangani sesuatu yang sensitif, Karena tempat yang basah akan membuat anda akan tenggelam di dalamnya.

Nyaris mustahil untuk tetap kering saat berada di tempat basah, Namun jika kita bersedia bercermin kepada tumbuhan air ini maka kita akan menemukan sebuah ke teladanan yang baik.

Ketika roda berputar cepat, tidak terasa mana atas dan mana yang bawah, malah sebaliknya bahkan kita melihat roda yang berputar cepat itu seperti diam seolah-olah ia hanyalah sebongkah lingkaran solid yang tidak bergerak.

Coba perhatikan roda yang bergerak cepat nyaris dia tak ubahnya seperti mematung seolah tak bergerak, itulah sebenarnya yang bisa kita sebut dengan kestabilan. Dan kestabilan itu bukanlah keadaan saat kita diam, melainkan kemampuan kita untuk bergerak sedemikian cepatnya.

Sehingga kita tidak lagi merasakan saat-saat yang kurang menyenangkan, dengan suatu sebab bahwa ketika kita bergerak dengan sangat cepat kita akan tenggelam dalam lautan rangkaian yang mengasyikan.

Bukanlah hal yang mustahil untuk tetap kering ketika menduduki jabatan yang basah, dan tidak mustahil untuk memiliki kepribadian yang baik meski di kerubuti oleh perilaku dan sikap-sikap yang buruk “.

Bukan juga sebuah kemustahilan, jika kita ingin meraih masa depan yang lebih cerah meskipun hari ini segala sesuatunya terasa berat, payah, dan susah. Sebab seperti teratai tadi, kita memiliki kendali yang penuh untuk menentukan kepribadian dan masa depan seperti apa yang ingin kita dapatkan.

Sementara itu, Tuhan merestui pilihan apa pun yang kita putuskan, dan pintu rumahnya selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin mendapatkan kemuliaan di sisi Tuhan.

Baca Juga:  ABDUL RAZAK ( PJS ) KADES , PASANG LAMPU JALAN TENAGA SURYA

Para manusia seperti kita sering kali  menyalahkan lingkungan yang memberi pengaruh buruk bagi kita. Biasanya kita hanya bisa bilang ” Saya dibesarkan di lingkungan yang buruk, sehingga wajar perilaku kita menjadi buruk, ataw orang tua saya miskin sehingga saya pun menjadi miskin.

Kita baru saja berbicara dalam tatanan duniawi, Rasullulloh SAW mengingatkan kita lebih dalam lagi bahwa manusia itu sama dimata Tuhan nya. Sederajat yang membedakannya hanyalah tingkat ketaqwaan nya saja.

Semakin tinggi tingkat ketaqwaan kita maka semakin tinggi pula derajat kita dimata Tuhan. Anehnya, ketaqwaan itu juga mempunyai rumus yang berbanding terbalik dengan kesombongan, seseorang yang taqwa tidak berani takabur, Orang yang taqwa juga tidak berani merendahkan orang lain. Sebab ketika kita merendahkan orang lain maka gugurlah satu tingkat ketaqwaannya.

Maka ketika kita di hina oleh orang lain, sebenarnya yang rugi bukan kita melainkan orang yang menghina. Manakah yang lebih menakutkan bagi anda, rendah dihadapan manusia ataw hina dimata Tuhan, Na’uzubillah, semoga Tuhan menghindarkan kita dari kehinaan.

(*)

Bagikan :