Peran Pendidikan Islam Dalam Mengatasi Krisis Akhlak

Kerinci- jendelapublik.com. Akhlak adalah salah satu hal pokok yang dimiliki manusia. Umumnya, masyarakat akan menilai seseorang berdasarkan apa yang ia lihat dari akhlak orang tersebut. Namun, saat ini mudah disapa mata tentang maraknya  krisis akhlak yang semula hanya menerpa sebagian kecil orang, kini telah menjalar kepada masyarakat luas, termasuk didalam kalangan pelajar. 24 Juni 2021

Krisis akhlak yang meracuni masyarakat umumnya terlihat pada sikap mereka yang mudah merampas hak orang lain, tidak menghargai dan menghormati, main hakim sendiri, melakukan pelanggaran tanpa merasa bersalah, mudah terpancing emosinya, dan lain sebagainya. Adapun krisis akhlak dikalangan pelajar berkenaan dengan ulah sebagian pelajar yang sukar dikendalikan, nakal, keras kepala, sering membuat keonaran, tawuran, mabuk-mabukan, pesta obat-obat terlarang, dan perilaku kriminal lainnya.

Krisis akhlak yang menjadi pangkal penyebab timbulnya krisis dalam berbagai kehidupan bangsa Indonesia saat ini belum ada tanda-tanda untuk berakhir. Keadaan seperti ini dilukiskan oleh Syekh Al-Nadvi dalam bukunya Madza Khasira Al-Alam Bi Inhitthath Al-Maslimin (Apa yang Diderita Dunia Akibat Kemerosatan Kaum Muslimin, 1983: 131), bagaikan dunia yang baru saja dilanda gempa yang dahsyat.

Di sana sini terdapat bangunan yang rata dengan tanah, dinding yang roboh dan retak, tiang yang bergeser, korban-korban jiwa yang bergelimpangan, dan harta benda yang musnah berserakan. Keadaan seperti inilah yang dihadapi oleh rasaulullah SAW pada awal perjuangannya. Itulah sebabnya fokus perhatian dakwah pada upaya menyempurnakan akhlak. Dalam salah satu haditsnya beliau mengatakan, Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq (Aku diutus (Tuhan) ke muka bumi ini semata-mata untuk menyempurnakan aklak.)

Menghadapi fenomena tersebut, tuduhan sering kali diarahkan kepada dunia pendidikan sebagai penyebabnya. Dunia pendidikan benar-benar tercoreng wajahnya dan tampak tidak berdaya untuk mengatasi krisis tersebut. Hal ini bisa dimengerti, karena pendidikan berada pada barisan terdepan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, dan secara moral memang harus berbuat demikian.

Baca Juga:  Kasat Reskrim: Selain 6 Pelaku Galian C Ilegal di Kerinci, Pak Tiwi Juga Sudah Ditetapkan Sebagai Tersangka

Sejarah mencatat, bahwa di akhir abad klasik krisis akhlak pernah melanda dunia islam. Pada masa itu ukhuwah islamiyah sudah terkoyak-koyak oleh kepentingan politik, golongan paham, dan kesukuan. Satu kerajaan islam dengan kerajaan islam lainnya saling bermusuhan dan berperang. Para penguasa saat itu sudah banyak yang terlibat dalam perbuatan yang memperturutkan hawa nafsu, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Menghadapi keadaan yang demikian, para ulama mengarahkan kegiatan pendidikan untuk membina akhlak. Al-Ghazali (W. 1111 M) misalnya mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan budi pekerti yang mencakup penanaman kualitas moral dan etika seperti kepatuhan, kemanusiaan, kesederhanaan, dan membenci terhadap perbuatan buruk seperti pola hidup berfoya-foya dan kemungkaran lainnnya.

Akar-akar penyebab timbulnya krisis akhlak yang terpenting diantaranya:

1.Krisis akhlak terjadi karena longgarnya pegangan terhadap agama yang menyebabkan hilangnya pengontrol diri dari dalam (self control).

2.Krisis akhlak terjadi karena pembinaan moral yang dilakukan oleh orang tua, sekolah, dan masyarakat sudah kurang efektif.

3.Krisis akhlak terjadi disebabkan karena derasnya arus budaya hidup materialistis, hedonistis, dan sekularistis.

4.Kris akhlak terjadi karena belum adanya kemauan yang sungguh-sungguh dari pemerintah. Kekuasaan, dana, teknologi, sumber daya manusia, peluang, dan sebagainya yang dimiliki pemerintah belum banyak digunakan untuk melakukan pembinaan akhlak.

Sejalan dengan sebab-sebab timbulnya krisis akhlak tersebut, maka cara untuk mengatasinya dapat ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1.Pendidikan akhlak dapat dilakukan dengan menetapkan pelaksanaan pendidikan agama baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat.

2.Dengan mengintegrasikan antara pendidikan dan pengajaran.

3.Sejalan dengan dua butir di atas, pendidikan akhlak bukan hanya menjadi tanggung jawab guru agama saja, melainkan juga tanggung jawab seluruh bidang studi.

Baca Juga:  Alumni Amik Depati Parbo Ajak Pemuda/i Kerinci dan Sungai Penuh NgampusS Disini

4.Pendidikan akhlak harus didukung oleh kerja sama yang kompak dan usaha yang sungguh-sungguh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Sementara itu, sekolah juga harus berupaya menciptakan lingkungan yang religius. Untuk itu, perlu adanya koordinasi dari kepala sekolah, guru, dan seluruh siswa.

Hal ini terwujud tidak hanya peran dari guru agama, melainkan semua guru termasuk guru BK. Guru BK adalah tempat siswa untuk mengetahui lebih dan kurangnya potensi masing-masing individu. Melalui BK, siswa diharap dapat menggali potensinya sehingga akan lebih banyak kegiatan positif yang dilakukannya, dibanding dengan berkecimpung dengan pergaulan-pergaulan yang tidak terarah.

(Don).

Bagikan :